Salam Tempel
Tak cukup jika hanya ketupat dan opor ayam yang jadi tradisi saat hari lebaran tiba. Terlebih bagi mereka kaum anak2. Kebanyakan dari mereka tidak terlalu peduli dengan hadirnya ketupat dan opor ayam yang telah dihidangkan di atas meja makan. Potongan2 ayam berbumbu santan putih bahkan tidak membuatnya sedikitpun merasa lapar. Ketupat2 yang bergelantungan juga tak mampu membuat mereka tergiur untuk segera mencicipinya. Hanya satu yang mereka kejar, hanya satu yang mereka cari dan hanya satu yang mereka inginkan. “Salam Tempel”. Cukup unik dan lucu jika mendengar kalimat ini. Ada kebingungan tersendiri yang menyelimuti pikiran. Tapi tidak bagi anak2 itu. Mereka mengerti benar arti sebuah kalimat dari “Salam Tempel”. Salam yang menurut mereka menghasilkan, karena ketika mereka salaman dan mengucapkan selamat lebaran (tentunya kepada yang lebih tua dan dihormati), biasanya setelah itu mereka akan segera mendapatkan sebuah amplop yang berisikan uang, atau malah terkadang tanpa disertai amplop. Itulah mengapa mereka bilang hari lebaran belum lengkap tanpa “Salam Tempel”. Karena sudah tradisi…
Ah! Mendengar kalimat “Salam Tempel” saya jadi teringat masa kecil saya saat menduduki bangku taman kanak2. Ketika saya bersama dengan orang tua dan kaka2 saya bersilahturahmi ke rumah Budhe, Mbakyunya si Ayah. Saya mendapatkan salam tempel untuk kali pertama. Amplop yang berisikan uang seratusan rupiah sebanyak sepuluh lembar. Merasa senang? Pastinya!
4 comments so far
Leave a reply
No comment
Numpang nimbrung nih Mas (atau Mbak?)…
Di tempat saya istilahnya “tanggok” (jala). Mungkin itu yang membuat saya jadi sedikit materialistis
center chicago ford oriental theater
so,
bagus gx ch salam tempel tu???